Tuesday, July 28, 2009

JALAN TENGAH

Sebahagian orang (pengikut berfahaman Jabariyah) berpendapat bahawa Allah Swt adalah pelaku perbuatan - perbuatan makhluk. Dengan kata lain,Allah telah memaksa manusia untuk melakukan perbuatan -perbuatan maksiat, kemudian menyiksa mereka.Dan Allah telah pun memaksa manusia untuk berbuat taat, lalu memberikan pahala kepada mereka. Pendapat ini berdasarkan pada( pandangan) bahwa sebenarnya semua perbuatan manusia adalah perbuatan Allah.Adapun sekaitan bahwa perbuatan tersebut dinisbatkan kepada mereka secara mutlak, itu lantaran mereka adalah pelakunya. Sumber dari ini adalah pengingkaran mereka terhadap hukum penguasa alam dalam semua hal,dan bahwa Allah merupakan Sebab yang hakiki dan tak memiliki sekutu.

Mereka mengingkari penguasa alam dalam semua hal.Mereka menyangka bahwa hal tersebut merupakan tuntutan Allah,Sang Pencipta yang tidak bersekutu.Mereka yang mengikuti pandangan telah menisbatkan kezaliman kepada Allah Swt.

Adapun aliran yang dinamakan dengan al-Mufawwidhah, yang berpandangan bahwa Allah Swt telah menyerahkan semua perbuatan kepada para makhluk, tanpa campur tangan qudrah,qadha,mahupun takdir-Nya dalam semua perbuatan mereka. Ini kerana (menurut mereka)penisbatan semua perbuatan tersebut kepada Allah bererti menisbatkan kekurangan bagi-Nya.Padahal yang benar adalah bahwa semua maujud bergantung kepada sebab- sebab khusus, yang semua berakhir pada satu sebab utama, yakni Allah Swt.Orang yang mengikuti pandangan seperti itu mengeluarkan Allah dari kekuasaan-Nya dan menyekutukan Allah dengan selain-Nya dalam penciptaan.

Adapun keyakinan kita, mengikuti apa yang telah diajarkan para imam kita tentang amru baina al-amrain dan jalan tengah di antara dua pendapat, tidak akan dapat dimengerti oleh para pendebat di kalangan teologi,di antara mereka terdapat satu kaum yang melakukan sewenangnya( Jabariyah)dan sebahagian lain melampui batas(Mufawwidhah). Ilmu dan filsafat belum dapat mengungkap pandangan para imam tersebut, kecuali beberapa abad kemudian. Tidaklah aneh bagi orang yang tidak mengetahui hikmah dan sabda- sabda para imam untuk menyangka bahwa pendapat ini termasuk penemuan sebahagian filosof kontemporeri Barat,sementara para imam kita telah mendahuluinya sepuluh abad sebelumnya.

Imam Ja'far al-Shadiq, untuk menjelaskan makna jalan tengah, mengungkapkan dengan perkataannya yang terkenal, "Tidak jabr dan tidak tafwidh melainkan amru baina al-amrain.

Betapa dalam kandungan erti ucapan beliau ini, yang kesimpulannya adalah bahwa semua perbuatan kita, dilihat dari satu sisi,benar- benar perbuatan kita dan kitalah sebab- sebab alamiahnya, perbuatan itu berada di bawah kekuasaan dan ikhtiar kita. Di sisi lain , semua kemampuan perbuatan itu merupakan pemberian Allah Swt dan berada di dalam kekuasaan-Nya. Sebab, Dialah Pemberi keberadaan dan tidak pernah melakukan pemaksaan dalam semua perbuatan kita, sehingga Dia harus menzalimi dengan menyiksa kita atas perbuatan maksiat yang kita lakukan (secara paksa).Sebab,kita memiliki kemampuna dan ikhtiar dalam perbuatan yang kita lakukan.(Sebaliknya),Dia tidak akan memasrahkan penciptaan semua perbuatan kepada kita,sehingga harus mengeluarkan semua perbuatan itu dari kekuasaan-Nya.Bahkan,bagi-Nya-lah ciptaan dan hukum , dan Dia Maha mampu melakukan segala sesuatu dan meliputi hamba- hamba-Nya.


Bagaimanapun juga, keyakinan kita adalah bahwa qadha dan qadar merupakan merupakan misteri diantara misteri-misteri ilahi.Maka, barangsiapa yang mampu memahaminya dengan baik tanpa ifrad (berlebihan) dan tafrid (berkurangan),itulah yang diharapkan.Dan barangsiapa tidak mampu memahaminya dengan baik,maka ia tidak harus berusaha mengerti dan mendalaminya, agar keyakinannya tidak menjadi sesat dan rosak. Sebab, qadha da qadar termasuk persoalan yang sangat rumit, bahkan termasuk salah satu perbahasan filsafat yang paling sulit, yang tidak mudah dimengerti oleh semua orang, melainkan oleh al-Auhadi( orang yang telah sampai dalam jenjang pengesaan Allah).

Kerana itu, banyak sekali para teologi yang tergelincir.Taklif atas perbahasan masalah ini berada di atas kemampuan manusia biasa. Dan cukuplah bagi manusia untuk menyakininya secara global, dengan mengikuti perkataan imam maksum (Ahlul Bait)bahwa masalah qadha dan qadar merupakan amru baina amrain yang didalamnya tidak ada jabr dan tafwidh. Dan persoalan ini bukanlah termasuk bahagian dari dasar- dasar keyakinan sehingga harus diyakini dalam bentuk terperinci.

Saturday, July 25, 2009

Bismillahirrah'maanirra'him

Imam Ali as berkata," Basmalah adalah bahagian dari ayat-ayat al-Fatihah,yang semua berjumlah tujuh ayat."(Kemudian beliau berkata)." Aku mendengar Rasulululah saww bersabda," Sesungguhnya Allah berfirman pada -Ku: Wahai Muhammad ,Kami telah berikan padamu tujuh ayat dari al-Fatihah dan juga al-Quran. Allah mengkhususkan al-Fatihah untukku dan menyamakannya dengan al-Quran.Sesungguhnya al-Fatihah lebih agung dari apa yang tersimpan di 'Arsy 'Allah mengkhususkan Muhammad saww dengan Basmalah dan memuliakan beliau dengannya. Tak seorang pun yang menyamai beliau kecuali Sulaiman as.Bukankah kalian tahu bahwa Allah telah menceritakan Balqis yang berkata,"<em>Telah sampai kepadaku sepucuk surat yang dikirim Sulaiman dan dimulai dengan Bismillahirrahmanirrahim". !Ketahuilah barangsiapa yang membaca Basmalah dengan kecintaan pada Muhammad dan keluarganya ,taat pada mereka dan beriman pada zahir dan batin mereka,maka Allah akan memberinya satu kebaikkan bagi setiap hurufnya.Setiap kebaikkan lebih baik dari dunia dan seisinya.Dan barangsiapa yang mendengar orang yang membaca Basmalah,maka dia mendapat sepertiga dari pahalanya orang yang membacanya.Kerana itu,amalkanlah membaca basmalah yang penih berkah ini.Ia merupakan sebuah harta yang tiada habisnya,dan orang tidak akan menyesal membacanya

Tuesday, July 21, 2009

Inilah Hikmah

Allah menjadikan Ali sebagai Hikmah dan kebaikkan yang melimpah;"Barangsiapa yang diberi hikmah oleh Allah,maka dia telah mendapat kebaikkan yang berlimpah,"Al-Baqarah 269.
Ibnu Abbas berkata,"Hikmah adalah mengenal Allah,Rasul dan Imam serta taat padanya,yang akan membawa seseorang menuju surga dan semua amalnya diterima serta kesalahannya diampuni.Hikmah adalah mengenal sesuatu sebagaimana adanya,dan inilah yang disebut sebagai pengenalan akan kebenaran.Tujuan penciptaan makhluk adalah menyembah Allah,tidak menyekutukan-Nya,beriman kepada Muhammad dan para Nabi sebelumnya,serta menaati Ali yang merupakan Hujjah Allah bagi sekelian umat manusia dan berpaling dari musuh-musuh yang menentangnya.
Allah memuji Ali dengan infak yang dilakukannya;"
Orang-orang yang menginfakkan harta mereka siang-malam secara sembunyi-sembunyi dan terang-terangan,"Al-Baqarah 274.
Diriwayatkan oleh Mujahid dari Ibnu Abbas,"Amirul Mukminin Ali (suatu ketika) mempunyai empat dirham.Beliau menginfakkan satu dirham di malam hari,satu dirham di siang hari,satu dirham secara sembunyi-sembunyi dan satu lagi secara terang-terangan.(Tafsir Ibnu Katsir-Basyarah al-Mushthafa).
Allah lalu menyebutnya sebagai khalifah dengan firman-Nya,"
Aku jadikan khalifah di muka bumi,"Al-Baqarah 30.
Ibnu Abbas berkata,"Para khalifah itu ada tiga,yaitu Adam,Daud,dan Amirul Mukminin yang merupakan anak Adam dari sisi lahiriah dan bapak Adam dari sisi batiniah.

Monday, July 20, 2009

Aisyah Binti Abu Bakar

Ummul Mukminin Aisyah binti Abu Bakar adalah salah seorang isteri Nabi yang menikah dengan Nabi pada tahun kedua hijrah.Perlu diingat bahwa semua isteri Nabi diberi gelar Ummul Mikminin ,sehingga kita menyebut mereka dengan Ummul Mukminin Aisyah,Ummul Mukminin Hafsah,Ummul Mukminin Khadijah,dan begitulah seterusnya.Gelar Ummul Mukminin sendiri dimaksudkan bahwa seorang bekas isteri Nabi tetapi menjadi milik umat Islam selamanya.Yang kerananya haram untuk dinikahi.Perrrrrhatikan firman Allah SWT yang mengatakan,"Janganlah kamu menyakiti Rasul dengan mengahwini isteri-isterinya setelah ia wafat"Al-Ahzab;153.
Sudah menjadi rahsia umum bahwa Aisyah memainkan peranan penting dalam upaya menaikkan dan menurunkan seseorang menjadi Khalifah.Ialah satu-satunya isteri Nabi yang ikut terlibat secara langsung dalam peperangan melawan Ali as yang menyebabkan terbunuhnya ribuan umat Islam yang tidak berdosa hanya kerana tidak suka Ali as menjadi Khalifah,dalam peperangaJamn al (unta), disebut peperangan unta ialah kerana ia duduk diatas unta.
Sebagaimana pernah diberitakan bahwa Aisyah banyak mendengar sabda-sabda Nabi yang memuji dan mengakui hak Kekhalifahan Ali as,tetapi kenapa ia jesteru sangat membenci ajan hadits-hadits itu,bukan hanya itu Aisyah juga sangat terkenal suka melakukan ijtihad tentang masalah-masalah agama walaupun ia harus melanggar Al-Quran dan sunnah Nabi.Bhukari dalam shahihnya pada bab shalat Qassar meriwayatkan,bahwa Aisyah pernah berkata,"Shalat Shafar seperti halnya Shalat Hadir,yaitu empat rakaat.
Perrrrrrrrrhatikan!!! Bagaimana ijtihad Aisyah merubah sunnah Nabi dan sebaliknya malah menyuruh sunnah Usman yang menjadikan Shalat Qassar Safar empat rakaat seperti halnya Shalat biasa untuk meraih simpati Muawiyah-Khalifah yang berkuasa saat itu. Sungguh tepat ungkapan yang mengatakan 'Agama rakyat mengikuti Agama penguasa' ,maka kerana Aisyah sebahagian dari rakyat,terpaksa ia harus mengikuti Khalifahnya demi untuk meraih simpati darinya walaupun sebelum itu ia sangat bermusuhan dengan Muawiyah,kerana dialah yang telah membunuh adik kandungnya Muhammad bin Abu Bakar.
Ahli sejarah menceritakan tatkala Muawiyah datang ke Madinah, ia tidak lupa untuk mengunjungi Aishah Setelah di persilakan masuk, Aisyah lantas bertanya kepadanya; Ya Muawiyah, apakah Anda yakin bahawa saya tidak akan membunuhmu? Ya, kerana saya masuk ke rumah yang aman, jawab Muawiyah, atau barangkali engkau takut pada Allah kerana membunuh Hajr bin Ady, dan sahabat- sahabatnya? " tanya Aisyah lebih lanjut. Muawiyah menjawb" Sebenarnya yang membunuh mereka adalah orang -orang yang menyaksikan peristiwa itu". Dalam riwayat lain disebutkan bahawa Muawiyah dan para gubernur lainnya sering mengirimkan sejumlah hadiah dan wang kepada Aisyah serta membayar seluruh hutang- hutangnya.
Dan jika mengamati kedekatan hubungan antara mereka berdua kita akan tahu bahwa permusuhan yang ada diantara mereka berdua adalah sandiwara belaka untuk mengelabui umat Islam.Tidak hairan jika kemudian mereka berdua begitu bersemangat untuk mengingkirkan Ali dari takhta Kekhalifahan serta bersekongkol untuk melenyapkan seluruh Ahlul Bait,Ketika Ali as wafat.Aisyah sampai sujud shukur untuk menunjukkan kegembiraan atas kemenangannya.Kebencian Aisyah terhadap Ali as ia tunjukkan dengan menunjukkan kebenciannya pada anak-anak Ali as termasuk ketika ia melarang pemakaman Hassan bin Ali as untuk dimakamkan disisi datuknya Muhammad Saww.Tidak diragukan lagi bahwa Aisyah termasuk salah seorang pendukung utama Bani Umayah yang membiarkan hinaan dan cacian terus dilakukan pada Ahlul Bait tanpa berusaha untuk melarangnya walau sedikitpun.
Imam Ahmad dalam Musnad menceritakan tentang seorang lelaki yang mencaci Ali as dan Ammar dihadapan Aisyah,lalu Aisyah berkata" Saya tidak akan mengatakan apapun tentang Ali.Adapun Ammar saya pernah mendengar,"Nabi bersabda;"Satu perkara dipilih kalau Ammar setuju memilihnya". Akhirnya kita pun tak perlu hairan bin ajaib kalau Aisyah kemudian berupaya untuk menghapus sunnah Nabi saww,sebaliknya menghidupkan Bidah Usman untuk mendapat simpati dan sokongan dari Muawiyah dan para Gubernur Bani Umayah yang lain.Imam Malik dalam kitabnya Al-Muwattha menceritakan Aisyah mengutuskan beberapa orang lelaki untuk disusukan kepada saudaranya Ummu Kaltsum dan anak saudaranya.Setelah menyusui mereka,Aisyah membolehkannya untuk bertemu dengan wanita-wanita itu tanpa hijab.Kerana beranggapan mereka telah menjadi muhrimnya.

Wednesday, June 17, 2009

IMAM ALI BIN ABI THALIB

IJTIHAD KHALIFAH ALI AS


Para ulama Ahlus Sunnah dan Syi'ah tidak mencatat hukum-hukum dan perbuatan-perbuatan Khalifah Ali AS yang bertentangan dengan al-Qur'an dan Sunnah Nabi SAWA. Ini adalah bertepatan dengan sabda Nabi SAWA:"Ali bersama al-Qur'an dan al-Qur'an bersama Ali."Dan di dalam hadith yang lain,"Aku tinggalkan kepada kalian Thaqalain; Kitab Allah danAhlul Baitku. Kalian tidak akan sesat selama-lamanya jika kalian berpegang kepada kedua-duanya. Dan kedua-duanya tidak akan berpisah sampai bersama-sama mengunjungiku di Haudh."{Muslim, Sahih, VII, hlm. 122]
Dan ianya menunjukkan bahawa khalifah Ali adalah maksum. Jika tidak, nescaya hukum-hukum dan perbuatan-perbuatan beliau yang menyalahi nas dicatat oleh Ahlul Sunnah dan Syi'ah. Nampaknya khalifah Ali AS merasa kesal terhadap bid'ah-bid'ah yang telah dilakukan mereka. Sementara kaum Muslimin pula telah biasa dengan bid'ah-bid'ah tersebut selama 25 tahun. Khalifah Ali AS sendiri menggambarkan keadaan yang berlaku di masa itu seperti berikut:
"Khalifah-khalifah sebelumku telah melakukan perbuatan-perbuatan yang menyalahi Rasulullah SAWA dengan sengaja.Mereka melanggar janji mereka dengan beliau dengan mengubah Sunnah-sunnah beliau. Sekarang jika aku memaksa mereka supaya meninggalkannya dan mengembalikan keadaan sebagaimana di zaman Rasulullah SAWA, nescaya tenteraku akan bertaburan lari dariku, meninggalkanku bersendirian atau hanya sedikit sahaja di kalangan Syi'ahku yang mengetahui kelebihanku, dan imamahku melalui Kitab Allah dan Sunnah Rasulullah SAWA akan tinggal bersamaku. Apa pendapat kalian, sekiranya aku menempatkan Maqam Ibrahim pada tempat yang telah ditempatkan oleh Rasulullah SAWA, mengembalikan Fadak kepada pewaris-pewaris Fatimah AS, mengembalikan timbangan dan ukuran seperti yang lazim di zaman Rasulullah SAWA, mengembalikan tanah kepada orang yang telah diberikan oleh Rasulullah SAWA, mengembalikan rumah Ja'far kepada pewaris-pewarisnya dan memisahkannya dari masjid (kerana mereka telah merampasnya dan memasukkannya ke dalam masjid); mengembalikan hukum-hukum yang kejam yang dipaksa oleh khalifah-khalifah yang terdahulu ke atas wanita-wanita yang secara tidak sah telah dipisahkan dari suami mereka, mengembalikan jizyah kepada Bani Taghlab, mengembalikantanah Khaibar yang telah dibahagikan-bahagikan, memansuhkan dewan-dewan pemberian dengan meneruskan pemberiankepada semua orang sebagaimana dilakukan pada masa Rasulullah SAWA tanpa menjadikannya tertumpu di kalanganorang-orang kaya, memulihkan pajak bumi, menyamakan kaum Muslimin di dalam masalah nikah kahwin, melaksanakan khums sebagaimana difardhukan Allah SWT,.
Memulihkan Masjid Nabi seperti bentuknya yang asal pada zaman Nabi SAWA, menutup pintu-pintu yang dibuka (selepas kewafatan Rasul) dan membuka pintu-pintu yang ditutup (selepas kewafatan Rasul), mengharamkan penyapuan di atas al-Khuffain, mengenakan hukum had ke atas peminum nabidh, memerintahkan halal mut'ah wanita dan mut'ah haji sebagaimana pada zaman Nabi SAWA, memerintahkan takbir lima kali dalam solat jenazah, mewajibkan kaum Muslimin membaca Bismillahi r-Rahmani r-Rahim dengan suara yang nyaring pada masa solat, mengeluarkan orang yang dimasukkan bersama Rasulullah SAWA di dalam masjidnya, di mana Rasulullah SAWA telah mengeluarkannya, memasukkan orang yang dikeluarkan selepas Rasulullah SAWA (beliau sendiri) di mana Rasulullah SAWAtelah memasukkannya, memaksa kaum Muslimin dengan hukum al-Qur'an dan talak menuruti Sunnah, mengambil zakatmenurut jenis-jenisnya yang sembilan, mengembalikan wudhuk basuh dan solat kepada waktunya, syariatnya dan tempatnya, mengembalikan ahli Najran ke tempat-tempat mereka, mengembalikan layanan terhadap tawanan perang Farsi dan bangsa-bangsa lain kepada kitab Allah dan Sunnah Nabi-Nya.
Sekiranya aku melaksanakan semua ini, nescaya mereka mengembara meninggalkanku. Demi Allah ketika aku perintahkan orang-orang supaya tidak melakukan solat jama'ah di masjid pada bulan Ramadhan kecuali solat-solat fardhu dan memberitahukan kepada mereka bahawa solat sunat berjama'ah (Tarawih) adalah bid'ah, sekelompok tenteraku yang pernah berperang di pihakku mulai berteriak:"Wahai kaum Muslimin! Ali ingin mengubah sunnah Umar dan bermaksud menghentikan kita dari melakukan solat-solat sunat Tarawih pada bulan Ramadhan." Mereka berteriak begitu rupa sampai aku khuatir mereka akan memberontak. Sayang! Betapa menderitanya aku berada "ditangan" orang-orang yang menentangku sekuattenaga dan mentaati pemimpin-pemimpin mereka yang "keliru" yang hanya menyeru mereka ke neraka."[al-Kulaini, al-Raudhah mina l-Kafi, VII, hadith 21, hlm. 60-63]
Khalifah Ali AS begitu berdukacita di atas sikap negatif kaum Muslimin terhadap seruannya untuk kembali kepada Sunnah Rasulullah SAWA. Malah mereka pula memarahi beliau. Khalifah Ali AS berkata lagi,"Aneh! Hati ummat ini telah diresapi cinta kepada pelaku-pelaku bid'ah dan menerima segala bid'ah mereka."Kemudian beliau berkata lagi,"Aneh! Mereka melihat Sunnah Nabi mereka bertukar-tukar dan berubah-ubah sedikit demi sedikit, bab demi bab. Kemudian mereka meredhainya tanpa mengingkarinya. Malah mereka memarahi (orang lain) bagi mempertahankannya, mencaci pengkritik-pengkritiknya dan penentang-penentangnya. Kemudian datang kaum selepas kita, lalu mengikuti pula bid'ah-bid'ah tersebut. Lantas mereka mengambil bid'ah-bid'ah tersebut sebagai Sunnah dan ugama bagi bertaqarrub kepada Allah SWT."[Sulaim, Kitab Sulaim, hlm. 134-135]
Persoalan yang timbul ialah apakah ucapan khalifah Ali AS itu benar berlaku kepada kita di abad ini? Lantas itu kita masih mencintai bid'ah-bid'ah tersebut. Dan sampai bilakah kita harus dicaci, dihina dan dilarang, kerana ingin kembali kepadahukum Allah SWT dan Sunnah Rasul-Nya?
Ali AS berjuang untuk mengembalikan kaum Muslimin kepada Kitab Allah dan Sunnah RasulNya yang sebenar. Lantaran itu beliau ditentang di setiap masa, malah Ali AS sendiri pada hakikatnya telah disisihkan dan dipencilkan oleh kuasa politik pada masa itu. Selama 25 tahun beliau tidak menghunuskan pedangnya. Beliau bekerja hanya sebagai seorang petani biasa bagi menyara kehidupan keluarganya. Tanah Fadak peninggalan Rasulullah untuk isterinya Fatimah AS pula telah dirampas. Dan apa lagi yang tinggal untuknya selain dari tulang empat kerat bagi menyara keluarganya.
Bandingkanlah kemiskinan Ali AS dengan kekayaan yang ditinggalkan oleh khalifah Uthman, al-Zubair, Talhah, Abdul r-Rahman dan Sa'ad, kelima-lima bekas Ahli Syura atau Ahlu l-Hilli wa l-'Aqdi yang dilantik oleh khalifah Umar bagi memegang jawatan khalifah, kalian akan mengetahui kezuhudan Ali AS malah kedudukan mereka begitu jauh berbeza di semua segi jika dibandingkan dengan kedudukan Ali AS.
Khalifah Uthman ketika dia dibunuh meninggalkan seratus lima puluh ribu Dinar, seribu ekor unta, nilainya dua ratus ribu Dinar.[Ibn Sa'd, Tabaqat, III, hlm. 53], seribu hamba selain daripada rumah-rumah, emas, perak dan intan.[al-Dhahabi, Dual al-Islam, I, hlm. 12]
Al-Zubair meninggalkan lima puluh ribu Dinar, sebelas buah rumah mewah di Madinah, dua buah di Basrah, sebuah di Kufah, sebuah di Mesir, seribu ekor kuda, seribu hamba lelaki dan seribu hamba perempuan.[al-Bukhari, Sahih, V, hlm. 21; Ibn Sa'd, Tabaqat, III, hlm. 77; al-Mas'udi, Muruj al-Dhahab, I, hlm. 434]
Talhah meninggalkan dua puluh ribu Dinar, mempunyai hasil pertanian ditaksirkan sebanyak seribu Dinar setiap hari.[Ibn Sa'ad, Tabaqat, III, hlm. 158; al-Baladhuri, Ansab al-Asyraf, V, hlm. 7; al-Dhahabi, Dual al-Islam, I, hlm. 18]
Abdul r-Rahman bin 'Auf meninggalkan dua ratus lima puluh ribu Dinar, seribu ekor unta, tiga ribu ekor kambing, seratus ekor kuda yang dipelihara di Baqi', ketulan emas yang banyak dipotong dengan kapak sehingga sakit tangan pemotong-pemotongnya dan meninggalkan empat orang isteri setiap orang mendapat lapan puluh ribu Dinar.[Ibn Sa'd, Tabaqat, III, hlm. 96; al-Mas'udi, Muruj al-Dhahab, I, hlm. 434; al-Ya'qubi, Tarikh, II, hlm. 146]
Sa'd bin Abi Waqqas meninggalkan dua ratus lima puluh ribu Dirham dan sebuah istana yang besar dan indah.[al-Mas'udi, Muruj al-Dhahab]
Justeru itu mereka sepertilah manusia biasa berlumba-lumba merebut kekayaan dunia dengan apa cara sekalipun. Perlakuan tersebut telah disabdakan oleh Rasulullah SAWA,"Aku akan mendahului kalian dan sesungguhnya aku menjadi saksi kepada kalian, demi Allah aku sedang melihat kepada haudhku sekarang aku dikurniakan kunci kekayaan bumi dan sesungguhnya aku tidak khuatir bahawa kalian akan mensyirikkan Allah, tetapi aku khuatir kalian akan bersaing berlumba-lumba untukdunia."[al-Bukhari, Sahih, V, hlm. 101]
Sebagaimana juga terdapat sahabat yang tidak meredhai keputusan yang dibuat oleh Rasulullah SAWA. Malah mereka menuduh beliau melakukannya kerana kepentingan diri sendiri dan bukan kerana Allah SWT. Al-Bukhari di dalam Sahihnya,Jilid IV, hlm. 47 bab al-Sabr 'Ala al-Adha meriwayatkan bahawa al-A'masy telah memberitahukan kami bahawa dia berkata:"Aku mendengar Syaqiq berkata:"Abdullah berkata:Suatu hari Rasulullah SAWA telah membahagikan-bahagikan sesuatu kepada para sahabatnya sebagaimana biasa dilakukannya. Tiba-tiba seorang Ansar mengkritiknya seraya berkata:"Sesungguhnya pembahagian ini bukanlah kerana Allah SWT. Akupun berkata kepadanya bahawa aku akan memberitahukan Nabi SAWA mengenai kata-katanya. Akupun mendatangi beliau ketika itu beliau berada bersama para sahabatnya. Lalu aku memberitahukan beliau apa yang berlaku. Tiba-tiba mukanya berubah dan menjadi marah sehingga aku menyesal memberitahukannya. Kemudian beliau bersabda:"Musa disakiti lebih dari itu tetapi beliau bersabar."
Perhatikanlah bagaimana sikap sahabat terhadap Rasulullah SAWA! Tidakkah apa yang diucapkan oleh Rasulullah SAWA itu adalah wahyu? Tidakkah keputusan Rasulullah SAWA itu harus dipatuhi?Tetapi mereka tidak mematuhinya kerana mereka tidak mempercayai kemaksuman Nabi SAWA. Al-Bukhari di dalam Sahihnya, Jilid IV, Kitab al-Adab bab Man lam yuwajih al-Nas bi l-'Itab berkata:"Aisyah berkata:NabiSAWA pernah melakukan sesuatu kemudian membenarkan para sahabat untuk melakukannya. Tetapi sebahagian sahabat tidak melakukannya. Kemudian berita ini sampai kepada Nabi SAWA, maka beliau memberi khutbah memuji Allah kemudian bersabda:"Kenapa mereka menjauhi dari melakukannya perkara yang aku melakukannnya. Demi Allah, sesungguhnya aku lebih mengetahui dari mereka tentang Allah dan lebih takut kepadaNya dari mereka."
Riwayat-riwayat di atas menunjukkan bahawa kedudukan para sahabat adalah lebih tinggi dari kedudukan Rasulullah SAWA Kerana mereka mempercayai bahawa Nabi SAWA boleh berbuat salah sedangkan mereka sentiasa benar.
Al-Bukhari juga di dalam Sahihnya Jilid IV, hlm. 49 bab al-Tabassum wa al-Dhahak (senyum dan ketawa) meriwayatkan bahawa Anas bin Malik telah memberitahukan kami bahawa dia berkata:"Aku berjalan bersama Rasulullah SAWA diwaktu itu beliau memakai burdah (pakaian) Najrani yang tebal. Tiba-tiba datang seorang Badwi lalu menarik pakaian Rasulullah SAWA dengan kuat." Anas berkata:"Aku melihat kulit leher Nabi SAWA menjadi lebam akibat tarikan kuat yang dilakukan oleh Badwi tersebut. Kemudian dia (Badwi) berkata:Wahai Muhammad! Berikan kepadaku sebahagian dari harta Allah yang berada di sisi anda. Maka Nabi SAWA berpaling kepadanya dan ketawa lalu menyuruh sahabatnya supaya memberikan kepadanya."
Lantaran itu tidak hairanlah jika Rasulullah SAWA sendiri menerangkan bahawa majoriti sahabat akan berpaling ke belakang selepas kewafatannya. Rasulullah SAWA bersabda:"Ketika aku sedang berdiri, tiba-tiba datang sekumpulan orang yang aku kenali. Lalu seorang daripada kami keluar dan berkata:Marilah. Aku pun bertanya:Kemana? Maka dia menjawab: Ke neraka. Demi Allah! Apa kesalahan mereka. Dia menjawab: Mereka (sahabat) telah murtad selepas anda (meninggal) dan berpaling ke belakang. Dan aku melihat bahawa tidak terlepas daripada mereka melainkan sebilangan unta yang terpisah daripenggembalanya."[al-Bukhari, Sahih, IV, hlm. 94-96; Muslim, Sahih, VII, hlm. 66 (Hadith al-Haudh).
Dan beliau bersabda lagi:"Aku mendahulu kalian di Haudh. Siapa yang melalui di hadapanku akan meminumnya dan siapa yang telah meminumnya tidak akan dahaga selama-lamanya. Kelak sebilangan orang yang aku kenali dan mereka pula mengenaliku akan dikemukakan di hadapanku. Kemudian mereka (sahabat) dipisahkan daripadaku. Di kala itu akan akan berkata: Mereka itu adalah para sahabatku (ashabi) Maka beliau menjawab:Sesungguhnya anda tidak mengetahui apa yang telah mereka lakukan (ahdathu) selepas anda. Maka aku akan berkata lagi: Nyahlah mereka yang telah mengubah (Sunnahku)selepas ketiadaanku."[al-Bukhari, Sahih, IV, hlm. 94-99]
Kesemua hadith-hadith tersebut adalah menepati ayat al-Inqilab firmanNya di dalam Surah Ali Imran (3): 144:"Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang Rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang Rasul apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barang siapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudarat kepada Allah sedikitpun dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur." Dan bilangan yang sedikit sahaja yang "terlepas" adalah menepati firman-Nya di dalam Surah Saba' (34): 13:"Dan sedikit sekali dari hamba-hambaku yang berterima kasih."
Ini adalah suatu hakikat dan iannya bukanlah suatu cacian atau cercaan. Oleh itu patut dibezakan antara "mencerca, mencaci dan menerangkan" hakikat sesuatu perkara. Jika tidak anda akan mengatakan bahawa al-Bukhari, Muslim, al-Tabari, Ibn Kathir, Ibn Hajr, Ibn Qutaibah adalah ejen-ejen Yahudi, orientalis dan sebagainya kerana mencatat perbuatan-perbuatan sahabat yang menyalahi nas. Khalifah Ali AS berkata:"Jika seseorang itu memberitahu hal atau keadaan seseorang yang menyalahi nas al-Qur'an dan Sunnah Nabi SAWA adalah lebih wajar dan ia tidak boleh dikatakan pencaci."[Syarif al-Radhi, Nahj al-Balaghah, hlm. 323] Firman Allah yang dalam Surah al-Nur (24): 7:"Dan sumpah kelima; bahawa laknat Allah atasnya jika dia termasuk orang yang berdusta," dan firmanNya lagi dalam Surah al-Baqarah (2): 159:".....mereka itu dilaknati Allah
dan dilaknati (pula) orang yang dapat melaknati."
Kedua-dua ayat tersebut jelas menunjukkan orang yang melakukan dosa besar atau menyembunyikan kebenaran yang berkaitan dengan hukum agama dan lain-lain adalah dilaknati oleh Allah dan RasulNya sama ada sahabat atau tidak. Menurut ayat tersebut orang Islam wajib melaknati orang-orang yang telah dilaknati oleh Allah dan Rasul-Nya. Khalifah Umar tidak mempercayai Abu Hurairah dan memukulnya hingga berdarah kerana mengambil harta Muslimin di Bahrain.[Ibn Abd Rabbih, al-'Aqd al-Farid, I, hlm. 26] Dia memeluk Islam pada 7 Hijrah dan dia bersama Nabi SAWA selama dua tahun lebih tetapi dia telah meriwayatkan hadith sebanyak 5,374 hadith sementara Ahl Suffah yang mempunyai masa lapang dan memeluk Islam lebih awal seramai 18 orang hanya meriwayatkan 116 hadith. Abu Bakar meriwayatkan 142 hadith, Uthman 146 hadith, Umar 537 hadith dan Ali AS 586.[Lihat Syarafuddin al-Musawi, Abu Hurairah, hlm. 20]
Abu Hurairah meriwayatkan sebuah hadith yang menyatakan Nabi Musa AS telah menampar Malaikat Izrail dan mencederakan sebelah matanya? [al-Bukhari, Sahih, II, hlm. 163; Muslim, Sahih, I, hlm. 309] Tidakkah ia bertentangan dengan al-Qur'an tentang sifat malaikat dan sifat Nabi?
Hadith yang bermaksud,"Sebaik-baik kurun adalah kurunku dan kurun selepasku" adalah bertentangan dengan al-Qur'an dan akal. Firman Allah dalam Surah Fussilat (41): 46:"Barang siapa yang mengerjakan amal yang salih, maka pahalanya untuk dirinya sendiri dan barang siapa yang berbuat jahat, maka (dosanya) atasnya sendiri dan sekali-kali tidaklah Tuhanmu menzalimihamba-hambaNya."
Kedua-dua ayat tersebut tidak menetapkan pahala yang lebih kepada orang yang hidup pada kurun pertama, kedua danseterusnya, malah mereka diberi ganjaran atau seksaan mengikut perbuatan mereka.
Ianya juga bercanggah dengan akal yang sejahtera kerana terdapat peristiwa-peristiwa yang sepatutnya tidak dilakukan oleh orang yang hidup pada abad pertama. Antaranya cubaan untuk membakar rumah Fatimah binti Muhammad SAWA kerana memaksanya memberi bai'ah kepada Abu Bakar, lahirnya golongan murtad dan mengaku menjadi Nabi, Perang Jamal yang mengorbankan lebih 16,000 orang, Perang Siffin yang mengorbankan lebih 70,000 orang, kebanyakannya sahabat dan tabi'in, Perang Nahrawan menentang Ali AS, penipuan Muawiyah terhadap Imam Hasan AS, cacian Muawiyah di atas mimbar terhadap Ali di masjid-masjid, perlantikan Yazid, seorang peminum arak, pembunuhan Imam Husayn AS, anak-anak dan keluarganya serta sahabatnya seramai 72 orang, pembunuhan beramai-ramai di Madinah yang diketuai oleh Muslim bin Uqbah, panglima Yazid, 80 orang saabat Nabi yang telah menyertai Perang Badar dibunuh dalam Perang al-Hurrah.[Ibn Qutaibah, al-Imamah wal-Siyasah, I, hlm. 216]
Bani Umaiyyah mencaci Ali AS di atas mimbar masjid selama 70 tahun, bermula dari Muawiyah, berterusan sehingga pemerintahan Umar bin Abdul Aziz. Cacian dihentikan selama dua tahun lebih, kemudian diteruskan semula.[al-Suyuti, Tarikh al-Khulafa', hlm. 243] Di manakah kebaikan 100 tahun pertama, selain dari kurun lahirnya Nabi SAWA dan keluarganya? Kenapa tidak dikatakan sahaja sebaik-baik makhluk ialah Nabi Muhammad SAWA, kemudian keluarganya.
Adapun riwayat Abu Hurairah yang bermaksud,"Janganlah kamu semua mencaci sahabat-sahabatku" adalah bertentangan dengan hadith,"Allah melaknati orang yang mengundurkan diri daripada menyertai tentera 'Usamah'.[Ibn Asakir, Tarikh Dimasyq,I, hlm. 424; al-Syarastani, al-Milal wa al-Nihal, I, hlm. 21] Nabi SAWA menentang sahabatnya yang mencaci 'Usamah (ketika itu berumur 18 tahun) dan mengundurkan diri mereka dari tenteranya kerana tidak mungkin bagi Nabi yang melarang supaya sahabatnya tidak dicaci, beliau sendiri mencacinya pula dan orang yang dikhitabkan di dalam hadith tersebut adalah orang yang berada di majlis Nabi SAWA, yang terdiri sama ada orang kafir, munafik atau orang Islam. Ini bermakna Nabi melarang orang kafir mencaci sahabat, sekalipun beliau sendiri dicaci oleh mereka.
Kalaulah ia ditujukan kepada orang Islam, maka ianya mempunyai dua pengertian. Pertama, orang Islam yang ada masa hayat Nabi SAWA ialah sahabatnya. Dengan itu khitab Nabi SAWA bermaksud,"Janganlah kamu wahai sahabatku mencaci sahabatku...." Ini bermakna sahabat yang dikhitabkan itu adalah sahabat yang jahat. Dalam erti kata yang lain,"Wahai sahabatku yang jahat, janganlah kamu mencaci sahabatku yang baik," justeru itu ada sahabat yang baik dan ada yang jahat. Jikalaulah orang Islam itu hanya dimaksudkan kepada orang lain daripada sahabat, bermakna orang Islam tidak boleh mencaci orang Islam (sahabat) yang telah dicaci oleh Allah dan RasulNya. Ini bertentangan dengan Surah al-Nur(24):7, yang tidak membezakan antara sahabat dan bukan sahabat.
Pujian atau keredhaan Allah kepada seseorang itu atau sahabat tertentu adalah berkait rapat dengan perbuatan mereka itu sendiri dan sekiranya perbuatan mereka itu pada masa yang lain menyalahi nas, maka pujian atau keredhaanNya tidak akan dikaitkan dengan mereka berasaskan nas, kerana pujian atau keredhaan dalam ayat-ayat tersebut adalah daripada sifat fi'liyah yang terhenti atas perbuatan makhluk dan ia bukan dari sifat dhatiyah yang memberi pengertian kekal tanpa berdasarkan perbuatan mereka sama ada bercanggah dengan nas ataupun tidak.
Jadi kalau ia memberi pengertian keredhaan yang kekal atau selama-lamanya maka semua orang yang termasuk di dalam firman-Nya: yang bermaksud "Wahai orang yang beriman" tidak seorangpun di antara mereka akan jadi murtad, begitu juga kemurkaan-Nya kepada orang kafir di dalam firmanNya:" Wahai orang kafir" tidak seorangpun daripada mereka akan menjadi Muslim.
Khalifah Umar telah menyebat Qadamah bin Maz'un salah seorang sahabat yang awal memeluk Islam dan menyertai Perang Badar kerana minum arak.[Ibn Hajr, al-Isabah,III, hlm. 228] Jika Allah telah meredhainya kenapa pula Umar mengenakan hukuman had ke atasnya?
Di manakah sumber hukum yang mengatakan orang yang mencaci "sahabat" tidak boleh diampun? Ibn Hajr di dalam Sawaiq al-Muhriqah, hlm. 150 tidak mengkafirkan orang yang mencaci sahabat. Begitu juga Ibn Hazm di dalam al-Fisal, III, hlm. 257 tidak mengkafirkan orang yang mencaci sahabat, malah ia diampun jika dia seorang yang jahil. Dan sekiranya mencaci sahabat adalah kafir, maka sahabat mencaci sahabat adalah lebih kafir lagi dan mereka pula lebih wajar tidak diampun!
Oleh itu Allah SWT sendiri tidak mengakui bahawa semua sahabat itu adalah adil. Rasulullah SAWA sendiri tidak mengakui bahawa semua sahabatnya adil. Al-Bukhari dan Muslim sendiri tidak mengakui semua sahabat itu adil. Untuk menjelaskan ketidakadilan semua sahabat, di sini diperturunkan beberapa soalan dan jawapan seperti berikut:
a) Soalan: Apakah "sikap" Allah SWT terhadap sahabat yang menyalahi hukumNya? Jawapannya: Negatif, sahabat itu tidak adil, tidak ada istimewa, mesti dihukum dengan sewajarnya dan tidak boleh berijtihad menyalahi nas.
b) Soalan: Apakah sikap Rasulullah SAWA terhadap sahabat yang menyalahi hukum Allah dan Sunnah Rasul-Nya?
Jawapannya: Negatif, sahabat itu tidak adil, tidak ada hak istimewa, mesti dihukum dengan hukumNya dan tidak boleh
berijtihad menyalahi nas.
c) Soalan: Apakah sikap Syi'ah terhadap sahabat yang menyalahi hukum Allah dan RasulNya? Jawapannya: Negatif, sahabat itu tidak adil, tidak ada hak istimewa, mesti dihukum dengan hukumNya dan tidak boleh berijtihad menyalahi nas.
d) Soalan: Apakah sikap kita Ahlus Sunnah terhadap sahabat yang menyalahi hukum Allah dan Sunnah Rasul-Nya?
Jawapannya: Positif, sahabat itu adil, mempunyai hak istimewa, tidak dihukum dengan hukum Allah dan Rasul-Nya kerana Allah telah meredhai mereka dan Rasulullah SAWA pula telah memilih mereka sebagai sahabatnya. Oleh itu mereka boleh berijtihad menyalahi nas, mereka pula mendapat satu pahala sebagai ganjaran menyalahinya. e) Soalan: Apakah sikap kita Ahlus Sunnah terhadap hukum Abu Bakar dan Umar yang menyalahi hukum Allah SWT?
Jawapannya: Hukum Abu Bakar dan Umar harus diikuti. Kerana mereka berdua adalah adil dan boleh berijtihad melawan hukum Allah SWT. Malah mereka berdua diberikan pahala pula. Dan jika seseorang itu tidak mengikuti hukum mereka berdua yang menyalahi hukum Allah SWT maka dia adalah terkeluar daripada Ahlus Sunnah wal-Jama'ah. Dan mereka berkata:"Siapakah kita jika dibandingkan dengan mereka berdua?" Tetapi kita tidak pernah membandingkan mereka berdua (Abu Bakar dan Umar) dengan Allah SWT yang menjadikan mereka berdua. Lantaran itu kita Ahlus Sunnah lebih meredhai hukum mereka berdua daripada hukum Allah SWT. Sebaliknya kita menentang orang-orang yang mengkritik mereka berduakerana menyalahi hukum Allah. Dan mempertahankan mereka berdua pula dengan apa cara sekalipun. Sepatutnya kita lebih
meredhai hukum Allah SWT daripada hukum Abu Bakar dan Umar.
f) Soalan: Apakah sikap kita Ahlus Sunnah terhadap Sunnah khalifah Abu Bakar dan Umar yang menyalahi Sunnah Rasulullah SAWA? Jawapannya: Sunnah Abu Bakar dan Umar harus diikuti kerana mereka berdua adalah adil dan ini adalah prinsip Ahlus Sunnah wal-Jama'ah. Dan mereka berdua pula boleh berijtihad melawan Sunnah Rasulullah SAWA malah mereka berdua diberikan pahala pula. Dengan ini kita Ahlus Sunnah lebih meredhai Sunnah mereka berdua daripada Sunnah Rasulullah SAWA. Justeru itu kita Ahlu al-Sunnah bukanlah orang yang menjaga Sunnah Rasulullah SAWA di dalam erti kata yang sebenar. Malah kita menggunakan nama "Ahl al- Sunnah" bagi menjaga Sunnah Abu Bakar dan Umar dengan mengenepikan Sunnah Rasulullah SAWA apabila ianya bertentangan dengan Sunnah mereka berdua. Dan ini adalah suatu hakikat sama ada kita mengakuinya atau tidak.
Dari jawapan-jawapan tersebut kita dapati bahawa sikap Syi'ah tentang sahabat adalah sejajar dengan "sikap" Allah dan Rasul- Nya. Manakala sikap kita Ahlus Sunnah agak keterlaluan tidak sejajar dengan "sikap" Allah dan RasulNya serta akal yang rasional. Lantaran itu doktrin semua sahabat itu adil adalah bukan daripada ajaran al-Qur'an dan Sunnah Rasul- Nya. Malah ianya diadakan pada abad ketiga Hijrah bermotifkan politik bagi menjaga para sahabat yang memerintah yang menyalahi nas. Kemudian ianya dijadikan "aqidah" oleh Abu l-Hasan al-Asy'ari di dalam bukunya al-Ibanah, hlm. 12.
Semenjak itu ianya menular ke dalam pemikiran golongan Ahlus Sunnah wal-Jama'ah sehingga menjadi sebati di dalam pemikiran mereka tanpa disedari bahawa ianya bukanlah dari aqidah al-Qur'an. Justeru itu mereka menjadi lebih sensitif kepada sahabat terutamanya Abu Bakar dan Umar daripada Allah dan Rasul-Nya. Lalu mereka meredhai para sahabat yang menyalahi hukum Allah dan Sunnah Rasul-Nya. Dan mengutamakan hukum dan Sunnah mereka dari hukum Allah dan Sunnah Rasul-Nya. Dan apabila kritikan dilakukan kepada sahabat yang menyalahi nas, kita Ahlus Sunnah cepat menjadi emosi dan marah sama ada yang berpendidikan tinggi yang memiliki Ijazah Doktor Falsafah atau yang berpendidikan Sijil Pelajaran Malaysia atau Empat Thanawi. Sama ada yang berpangkat Mufti atau amil zakat semuanya mempertahankan para sahabat yang menyalahi nas, meredhai dan mematuhi mereka pula. Lantaran itu ianya menjadi belenggu kepada pemikiran menurut al-Qur'an. Malah ianya merupakan suatu "penjajahan mental" yang halus yang sukar di kikis dari pemikiran mereka.
Lantaran itu apabila dikritik para sahabat yang melakukan kezaliman, perzinaan, peminuman arak, pencurian, penipuan, pembunuhan, pemalsuan hadith, pengambilan dan pemberian rasuah, pencacian terhadap Nabi SAWA, penindasan terhadap anak cucu Nabi SAWA dan lain-lain, mereka merasai bahawa agama Islam tercemar dan asas Islam telah diruntuhkan kerana mereka menyangka bahawa para sahabat yang melakukan jenayah-jenayah tersebut sebagai orang-orang yang sentiasa adil, yang mesti dihormati kerana mereka adalah asas Islam.
Sebenarnya mempertahankan para sahabat yang melakukan jenayah-jenayah tersebut atau menyalahi nas bukanlah asas Islam, malah mereka mencemarkan hukum Allah dan Sunnah RasulNya. Dan hanya menjadi asas kepada mazhab Ahlus Sunnah wal-Jama'ah sahaja. Kerana Allah dan RasulNya menentang para sahabat tyang melakukan jenayah-jenayah tersebut dan mereka dikira sebagai tidak adil dan berhak diberi pembalasan sewajarnya. Bagi kita Ahlus Sunnah kita lebih meredhai dan mematuhi hukum-hukum Abu Bakar dan Umar yang menyalahi nas dari nas. Dan ini adalah aqidah kita Ahlus Sunnah wal-Jama'ah yang diasaskan oleh Abu l-Hasan al-Asy'ari pada abad ketiga Hijrah.
Bagi mengesahkan hak istimewa para sahabat yang memerintah dan menyalahi nas, kita popularkan pula "hadith", "Apabila seorang hakim atau pemerintah berijtihad dan betul, dia mendapat dua pahala dan jika tersalah (kerana menyalahi nas umpamanya) dia mendapat satu pahala." Hadih ini pada hakikatnya bertentangan dengan firman-firman-Nya di antaranya di dalam Surah al-Ahzab (33): 36:"Dan tidaklah patut bagi lelaki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukminah apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan sesuatu ketetapan akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barang siapa menderhakai Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya dia telah sesat, sesat yang nyata." Dan firmanNya dalam Surah al-Maidah (5): 49:".....dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka mengikut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikut hawa nafsu mereka."
Dan firman-Nya di dalam Sirah al-Maidah (5):50:"Apakah hukum jahiliyyah yang mereka kehendaki dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?" Oleh itu hadith tersebut adalah lemah kerana ianya bertentangan secara langsung dengan ayat-ayat tersebut apatah lagi jika mereka menggunankan ijtihad sebagai alasan bagi menyalahi nas.
Kemudian doktrin ini pula dijadikan hak istimewa penguasa-penguasa tertentu di dalam dunia Sunni. Oleh itu sebarang pembetulan atau penentangan terhadap hak istimewa penguasa-penguasa tersebut ke atas hukum Allah dan RasulNya di asa ini dan seterusnya tidak akan terlaksana sepenuhnya tanpa pembetulan atau penghapusan terhadap "hak istimewa penguasa-penguasa yang terdiri daripada para sahabat yang menyalahi nas" yang menjadi "aqidah" kita Ahlus Sunnah wal-Jama'ah.
Justeru itu sebarang perjuangan atau penentangan kita Ahlus Sunnah terhadap kezaliman bagi menegakkan sebuah negara Islam umpamanya, adalah terhad dan tidak pula berterusan. Ini disebabkan kita sendiri terlibat secara langsung di dalam kancah mempertahankan "hak istimewa" para sahabat yang menyalahi nas. Justeru itu ianya bertentangan dengan firman Tuhan di dalam Surah Hud (11): 13:"Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang zalim, maka kamu akan disentuh api neraka."
Apabila Ali AS menjadi khalifah, beliau tidak memberikan hak istimewa kepada sesiapapun. Malah beliau menyamakan kedudukan semua orang dari segi keadilan menurut al-Qur'an dan Sunnah Rasulullah SAWA. Tindakan beliau itu tidak disenangi oleh sebahagian mereka dan akhirnya berlaku Perang Jamal yang ketuai oleh 'Aisyah, al-Zubair dan Talhah. Dan dialog telah berlaku di antara Khalifah Ali AS dan al-Zubair. Beliau berkata kepada al-Zubair:"Jika aku mengetahui anda ahli syurga, aku tidak akan memerangi anda." Tentang kesalahan al-Zubair dalam peperangan Jamal, lihat al-Syahrastani, al-Milal wa al-Nihal, I, hlm. 103, Kitab Sulaim, hlm. 211.
Lantaran itu hadith 10 orang sahabat yang dijamin masuk syurga itu adalah hadith-hadith politik yang cuba menyatukan penyokong puak-puak yang bersengketa. Dalam ertikata yang lain, sekalipun mereka yang 10 itu berperang dan caci-mencaci tetapi akhirnya mereka ke syurga juga. Ini berlaku apabila seorang lelaki mencaci Ali di Masjid Kufah, maka berdirilah Said bin Zaid (w.51H) seraya berkata:"Aku mendengar Nabi bersabda bahawa 10 orang masuk syurga; iaitu Ali, Talhah, al-Zubair, Said bin Abi Waqas, dan Abdu r-Rahman bin Auf."Kemudian orang bertanya:"Siapakah yang kesepuluh?" Ia menjawab:"Aku." Dalam lafaz yang lain nama Abu Ubaidah dimasukkan dan Nabi pula tidak dimasukkan. [al-Turmudhi, Jami', hlm. 13 dan 183] Hadith ini melalui Abdu r-Rahman bin Hamid yang didengarinya daripada ayahnya yang mendengar daripada Abdu r-Rahman bin 'Auf. Hadith ini dianggap palsu kerana ayah Abdu r-Rahman bin Hamid yang bernama al-Zuhri adalah seorang tabi'in, bukanlah sahabat, ia dilahirkan pada 31 Hijrah, sementara Abdu r-Rahman bin Auf meninggal pada tahubn 31 atau 32 Hijrah.
Kemudian diikuti pula Perang Siffin yang diketuai oleh Muawiyah dan akhirnya Perang Nahrawan. Sesungguhnya benar apa
yang disabdakan oleh Rasulullah SAWA kepada Ali AS:"Sesungguhnya anda akan memerangi al-Nakithin (di Perang Jamal), al-Qasitin (di Perang Siffin) dan al-Mariqin (di Nahrawan)"[al-Kanji al-Syafi'i, Kifayah al-Talib, hlm. 169]
Demikianlah perjuangan Khalifah Ali AS bagi menegakkan Sunnah Rasulullah SAWA sekalipun beliau ditentang oleh para sahabatnya sendiri. Tetapi sayang sekali hasrat beliau untuk mengembalikan kaum Muslimin kepada Sunnah RasulullahSAWA kurang mendapat sambutan, sehingga beliau menemui kesyahidannya tanpa kekayaan yang ditinggalkannya.



KESIMPULAN


Khalifah Abu Bakar,Umar dan Uthman berpendapat bahawa ijtihad boleh dilakukan walaupun wujudnya nas. Pendapat ini kemudian dipegang oleh Ahlus Sunnah wal-Jama'ah. Sementara Khalifah Ali AS berpendapat ijtihad tidak boleh dilakukan jika wujudnya nas. Pendapat ini kemudian dipegang oleh Syi'ah (Mazhab Ja'fari).
Daripada pendapat-pendapat Khulafa' Rasyidin lahirlah dua golongan hingga dewasa ini. Pertama dikenali dengan Ahlus Sunnah wal-Jama'ah yang mendokong ijtihad ketiga-tiga khalifah meskipun ianya bertentangan dengan nas. Mereka juga berpendapat bahawa pintu ijtihad telah ditutup.
Kedua dikenali dengan Syi'ah (Mazhab Ja'fari) yang mendokong Khalifah Ali AS berpegang kepada ijtihad tidak boleh melawan nas hingga dewasa ini. Meskipun begitu mereka berpendapat bahawa pintu ijtihad masih terbuka. Lantaran itu mereka mempunyai ramai para mujtahid di setiap masa dan terus berijtihad di dalam soal-soal yang tidak bertentangan dengan nas.
Oleh itu kesemua pendapat atau ijtihad Khulafa' Rasyidin harus dihormati dan digabungkan di dalam satu wadah perpaduan iaitu ijtihad mestilah diteruskan bagi menyelesaikan masalah-masalah yang dihadapi oleh umat Islam di masa ini. Kerana zaman Khulafa' Rasyidin sudah berlalu. Dan ianya menjadi satu contoh dan pengajaran kepada kita semua.
Saya mempunyai harapan yang tinggi bahawa perasaan fanatik dan kejumudan fikiran akan dicairkan melalui pembacaan, kajian dan merujukkannya kepada Allah SWT dan Rasul-Nya SAWA. Semoga Allah memberkati kita semua bersama Khulafa' Rasyidin. Amin.